Masa muda memanglah saat-saat di mana kita merasa yang paling benar. Kita menjadi idealis. Kita merasa menjadi pahlawan yang dirindukan bangsa ini. Kita bangga dengan pencapaian kita, kita bisa kuliah, kita pandai bahasa inggris, kita pandai menggunakan gadget dan teknologi yang orang tua kita nggak bisa pakai.

Masa muda juga merupakan masa-masa pembuktian. Agar orang-orang tahu kalau kita care terhadap negara ini, kita ikut pemilu, walau nggak juga yakin dengan siapa aja yang kita pilih. Lalu kita unggah foto bekas tinta di jari kelingking kita ke media sosial, niatnya sebagai inspirasi, atau juga bukti kalau kita sudah menunaikan kewajiban kita sebagai warga negara. Lalu apa?

Lalu kita fokus lagi ke kuliah kita, sambil merangkai-rangkai mimpi mau IP berapa, terus mau kerja di mana, terus mau nikah kapan, terus mau beli gadget apa aja, mobilnya apa, terus menulis daftar negara mana aja yang akan kita kunjungi. Terus tersisa di mana nasionalismenya?

Yah, beginilah, masa muda memang masa di mana kita merasa care, merasa peduli terhadap sekeliling kita padahal kita nggak bisa ngapa-ngapain. Kita selalu kritis kalau sedang diskusi, kita juga ikut-ikutan aksi gerakan beberapa capres yang menurut kita keren dan inspiratif. Kita bermimpi untuk Indonesia jauh ke depan, tapi kita menutup mata terhadap realita.

Contohlah masalah pengemis. Di Depok saja, di mana-mana ada pengemis. Kadang kita kasihan dengan mereka. Kadang kita mengutuk mereka. Mengganggu pemandangan mata, kita bilang. Mereka itu cuma pura-pura, kita bilang. Mereka itu sindikat, kita bilang. Kadang pula kita mengutuk dia yang memberi mereka recehan, mereka akan ketagihan kalau dikasih, kita bilang. Kadang pula kita mengutuk pemerintah kota, satpol pp, atau entah siapapun yang berwenang. Kenapa mereka nggak diusir. Kenapa mereka nggak ditampung di mana gitu. Entah kalian kasihan atau nggak. Yang jelas kita merasa risih dengan mereka, para pengemis ini.

Kita mengutuk mereka karena malas bekerja.

Eh, sebentar, emang kamu bisa ngasih dia pekerjaan? Mereka mengemis karena memang nggak ada pekerjaan lain yang membuat mereka sejahtera. Apakah kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan buat mereka? Apakah kita bisa menggaji mereka? Apakah kita bisa membantu mereka mendapat tempat tinggal yang layak. Apakah kita bisa membantu biar anak-anak mereka bisa sekolah? Bukannya ngikut ngemis orang tuanya? Jadi jangan salahkan siapapun, kalau kita nggak bisa ngasih solusi.

Ngasih duit ke mereka bukan solusi. Mendiamkan mereka sampai kelaparan juga bukan solusi.

Contoh lainnya, masalah TKI. Mulai dari TKI ilegal, TKI terancam dipenggal, TKI dibunuh, dikurung, disiksa, disetrika, dan lain-lain. Jumlah TKI kita di luar negeri mencapai 6,5 juta orang yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Mereka bukan profesional, atau pengusaha, apalagi akademisi. Tetapi buruh kasar, pembantu rumah tangga, dan pekerja-pekerja kelas bawah lainnya.

Betapa banyaknya mereka yang harus ke luar negeri untuk sekedar bekerja.

Adakah diantara kita yang sadar?

Kebanyakan dari mereka adalah ibu-ibu. Mereka meninggalkan keluarga selama 2 hingga 4 tahun. Itu waktu yang sangat panjang. Lalu siapa yang berperan menjadi Ibu untuk anak-anak mereka? Siapa yang akan merawat dan mendidik anak-anak mereka? Katanya pendidikan anak bangsa itu dimulai dari keluarga? Selama bertahun-tahun jutaan anak Indonesia kehilangan ibu mereka. Selama bertahun-tahun jutaan anak Indonesia kehilangan ayah mereka. Apakah kondisi ini membuat keluarga mereka bahagia?

Mereka rela menjadi pekerja kasar di negeri orang, meninggalkan anak dan keluarga, demi keberlangsungan hidup keluarga mereka, dan juga demi masa depan anak-anak mereka.

Tetapi kita malah sering mengutuk dan mentertawakan mereka.

Kalau lapangan kerja di Indonesia ini memang benar-benar mencukupi, tak perlu ada yang menjadi babu / jongos / batur / pembantu lagi di negeri orang. Kalau lapangan kerja di Indonesia ini memang benar-benar mencukupi, jutaan orang tua akan bisa bekerja tanpa harus meninggalkan kewajiban mereka untuk merawat dan mendidik anak-anak mereka.

Jutaan anak-anak Indonesia kehilangan orang tua, hanya karena kita tak bisa menyediakan pekerjaan.

Bagaimana teman-teman? Masih adakah di antara kita yang bermimpi untuk kerja di perusahaan multinasional terkemuka? Masih adakah di antara kita yang bermimpi untuk kerja dan hidup bahagia di luar negeri? Masih adakah di antara kita yang merasa tugas kita sudah selesai ketika kita datang ke TPS?

Sementara realita menyedihkan itu terus bergulir di sekeliling kita, masih adakah di antara kita yang asyik di dunia virtual, bermain game, atau bersama iPhone / iPad / gadget-gadget mewah lainnya? Atau malah udah ada dana buat beli gadget spesies baru yang sebentar lagi dirilis? 🙂