ISPO = Indonesian Science Project Olympiad. ISPO adalah sebuah kompetisi pameran karya ilmiah tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Pasiad Indonesia.

Dulu kelas 10 aku merasa bahwa ISPO itu ga penting dan cuma buang-buang waktu aja. Tapi kelas sebelas ini aku jadi tertarik untuk ikut ISPO karena lagi kurang kerjaan, buat nambah pengalaman juga sih. Sebelumnya belum pernah ikut lomba karya ilmiah soalnya.

Banyak temenku yang tertarik ikut ISPO. Aku pun juga mulai mencari ide buat project. Yang terpenting adalah aku pengen bikin project di bidangku : komputer. Setelah muter-muter ternyata nemu beberapa ide. Dan yang aku pilih adalah : mengembangkan Cloud Computing buatan sendiri. Menurutku itu penting banget saat ini karena sekarang lagi trend “Cloud Computing”. Setelah dapet ide akhirnya dapet partner tim juga.

Persiapan dimulai dengan bikin makalah dan presentasi. Tapi aku sendiri belum cobain sistemnya. Jadi kayak project mimpi gituh. Ternyata bikin makalah karya ilmiah itu susah. Perlu ratusan kali diedit dan itu pun masih terasa belum sempurna. Pada waktu yang ditentukan, dua kali aku dan siswa project lainnya presentasi di depan guru-guru dan General Manager. Feedbacknya lumayan sih, mereka pada tertarik.
Selama liburan semester satu aku ga menyentuh project sama sekali. Januari awal aku mendaftarkan projectku dan setelah itu aku ada Olympiad Camp di KBS Jogja. Seminggu terakhir aku camp, finalis ISPO untuk bertandang ke Jakarta pun diumunkan. Aku lolos. Tapi aku dihadapkan pada dua pilihan penting, ikut ISPO atau ILPC Surabaya (yang tahun kemaren dapet juara 1). Ternyata aku milih ISPO, itung-itung cari hal baru. haha.

Waktu di jogja, aku nyoba sistemku. Ternyata berhasil. Langsung optimis. Setelah aku amati ternyata projectku adalah project komputer satu-satunya dari Pasiad. Tambah optimis.

Waktu balik dari camp langsung disuguhkan dengan kerjaan-kerjaan susah yang harus diselesaikan dalam 3 hari. Bikin brosur, bikin poster, cari modem, cari router, benahin proposal, print sana print sini, dan masibanyaklagi.

Minggu, 19 Februari 2012 aku dan yang lain berangkat ke jakarta (beserta anak-anak Turkish Olympiad). Kami menginap di Kharisma Bangsa. Sempat ada cekcok ama seorang Guru karena kami dipaksa menginap disana sampai ISPO berakhir. Tapi akhirnya kami bisa lepas dari sana dan menginap di YTKI Jakarta. Waktu masih di kharisma bangsa kami sedikit latian dan banyak senang-senang.

ISPO hari pertama.
Kami datang telat di Balairung Universitas Indonesia. Yang lain datang jam 7 tapi kami jam 9 baru sampai, karena perjalanan Pondok Cabe – Depok Macet total. Yang lain udah pada mulai menata stand, namun kami masih masang muka tidur & sarapan dulu. Aku dapat stand di bagian paling belakang, tempatnya sepi. ISPO hari pertama cuma ada satu juri yang datang, dia ambil brosur & tanya-tanya dikit, dia bilang dia akan datang lagi besok & tanya lebih lanjut. Sore pun datang, pameran pun berakhir.

ISPO hari kedua.
Sempat excited karena ini hari terakhir penilaian. Aku muter-muter liat project lain & ternyata bagus-bagus. Pagi-pagi udah ada juri lain yang dateng, tapi standku dilewatin begitu aja karena kebetulan ada tamu. Siangnya lagi juri itu dateng, dia dosen fasilkom. Aku kalah debat. Tapi masih pede aja. Aku nunggu juri-juri lainnya buat balas dendam. Ternyata sampai sore ga ada yang datang padahal aku melihat sosok-sosok mereka, termasuk yang kemaren bilang janji dateng.

Pengumuman
Pengumuman dilaksanakan di TMII Jakarta. Optimist banget karena banyak yang bilang pasti aku dapat medali, minimal perak atau emas. Setelah lama banget nunggu sampai jam tiga, pemenang pun dibacakan. Honorable Mention. Bukan aku (seneng). Perunggu. Bukan aku (seneng). Perak. Bukan aku. Dua project dari sekolahku dapet perak. Saingan terberatku ternyata belum dipanggil. Aku berharap semoga aku yang dapet emas, bukan saingan terberatku. Emas. Bukan aku. Tidaaakkk….

Aku kalah. Sempat shock sesaat. Dan kegalauan berlanjut seminggu selanjutnya. 2 tim dari sekolahku dikirim ke Belanda dan Dreamline International (Ankara) buat kompetisi internasionalnya.

Ternyata nasib bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Mulanya optimist bisa ke luar negeri, ternyata detik selanjutnya mimpi itu musnah. Dan ISPO kali ini mempertebal daftar kekalahanku, terutama waktu SMA yang memang udah tebal.