Bangsa ini memiliki masa lalu yang suram. Berabad-abad lamanya kita dikuasai oleh kekuatan asing, mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, hingga Jepang. Mungkin kita bisa belajar banyak dari mereka, namun yang pasti rakyat kita dulunya sengsara.

Tanah yang sekarang kita tempati adalah milik mereka, kakek dan kakek buyut kita. Begitu pula dengan pepohonan, mereka pula yang semai, mereka pula yang tanam. Juga rel kereta dan jalan-jalan yang setiap hari kita lewati, yang yang mungkin kita tak pernah membayangkan, siapa dahulu yang membangun. Siapa dahulu yang membersihkan hutan, yang mengangkuti batu, dan membanting jiwa raga membangun jalan-jalan ini. Banyak infrastruktur yang kita gunakan sekarang, peninggalan mereka.

Merekalah para pekerja dan kuli tanpa bayar, merekalah romusha Jepang, merekalah budak-budak kerja paksa Belanda. Merekalah ratusan ribu orang kurus kering dengan pakaian karung dan makanan sekali sehari. Ratusan orang mati kelaparan, ratusan orang mati tertimpa batu dan terkubur tiap hari. Merekalah yang dipaksa meninggalkan kampung halaman, meninggalkan sanak keluarga untuk membangun jalan di sana dan di sini.

Mereka tidak pernah memilih untuk hidup di zaman serba susah dan serba lapar seperti itu. Kita pun tak pernah memilih untuk hidup di zaman ini, zaman serba ada dan serba kenyang. Mereka setiap harinya hanya bisa bermimpi, suatu saat kelak, anak cucuku akan memenangkan peperangan ini, mengusir penjajah-penjajah ini, dan tak perlu menderita seperti yang kita alami. Suatu saat kelak, mereka akan menggunakan jalan-jalan, rel, dan gedung-gedung yang kita bangun, dan mengingat kita, yang telah membangun dengan susah payah.

Mungkin kita tak pernah sadar. Para pendahulu kita itu bukan para materialistik, mereka itu kuli-kuli yang tak dibayar, mereka diambil paksa dari kampung mereka, dan diangkut untuk menjadi pekerja kolonial bersama ratusan ribu pribumi lainnya. Pelajaran sejarah yang kita pelajari di sekolah pun sudah mengingatkan kita akan hal ini. Tapi tak pernah meningkatkan semangat juang kita. Malah hanya membuat kita lebih inferior, pesimis, dan oh tidak, mencerca pendahulu kita.

Pendahulu kita tak hanya menurut dan bersedia menderita begitu saja. Mereka telah melawan, mereka telah berperang, walau itu akhirnya juga merenggut nyawa mereka sendiri. Beberapa dari mereka cukup beruntung untuk selamat, kakek-kakek yang sering kalian lihat memakai baret kuning di pinggir jalan, menatap jembatan tempat mereka dulu berperang.

Mereka sekalipun tak sempat untuk menyenangkan diri, tak ada ego pada diri mereka, yang penting hanyalah bagaimana anak-cucuku bebas dari kesusahan ini. Mereka berkeyakinan, jika anaknya sama menderitanya dengan mereka, mereka adalah orang tua yang tidak baik, orang tua yang gagal.

Mungkin kita tak pernah sadar, kita berhutang banyak kepada mereka. Baik kepada yang saat ini masih hidup, walau sudah tua dan apa adanya. Atau mereka yang telah sejak dulu tiada, yang tak sempat melihat bagaimana kehidupan anak-cucu mereka kelak. Atau mereka pemuda yang gugur, yang bahkan tak berkesempatan untuk berkeluarga, yang tak punya keturunan untuk mengenang mereka. Mereka tak pernah meminta pamrih.

Kita berhutang banyak kepada mereka, dan jumlahnya besar sekali, dan belum terbayarkan, atau tak kan pernah bisa terbayarkan. Kita hanya bisa menikmati, dan lupa diri, di atas penderitaan kakek-nenek kita.