Setiap masyarakat di dunia punya pandangan-pandangan tersendiri. Pandangan yang sudah dirajut sejak mereka mulai menghembuskan nafas ke dunia. Pandangan dan pola pikir yang lahir dan berkembang dalam kehidupan yang melekatkan mereka di hati.

Kebaikan, di satu sisi bukanlah sesuatu yang pasti. Kebaikan datang dari hati. Dan hati setiap orang itu berbeda. Tak ada yang buruk, karena semua makhluk pasti mempunyai jiwa baik, seberapapun mereka berlaku dan dikenal buruk. Semua orang mempunyai naluri kebaikan yang memang menjadi ciri khas kehidupan.

Di dunia barat, mereka telah mengembangkan pola pikir mereka. Di timur tengah mereka juga telah mempunyai pandangan dan kepercayaan tersendiri. Dan dunia timur pun mempunyai norma dan adat istiadat milik mereka.

Sesuatu yang dipandang baik di belahan dunia satu, belum tentu akan dikenal baik di belahan dunia lain. Begitu juga sebaliknya. Karena ada perbedaan. Perbedaan yang memang sudah mendasari pola pikir yang sudah tertempa sejak puluhan generasi. Karena perbedaan, segala sesuatu bisa diungkapkan secara subyektif dan multi-perspektif.

Desa mawa cara, negara mawa tata. Lain ladang lain belalang.

Terlepas dari apapun perbedaan itu. Ada juga nilai kemanusiaan yang universal. Nilai-nilai kebaikan dan kecenderungan akan pencapaian kebahagiaan dan keadilan. Setiap orang di negeri manapun pasti menginginkan itu. Itulah kenapa walau tertutup jutaan keping perbedaan, masih ada juga kesamaan yang baku.

Mereka punya pemerintahan, kita juga. Mereka punya penegak keadilan dan penertib keamanan, kita pun punya. Mereka punya kepercayaan, kita pun punya. Atheisme pun sebuah kepercayaan, bukan begitu? Sebuah gerakan skeptisme dan sinis pun meruakan kepercayaan. Terlepas dari masih adanya perbedaan, tapi tetap ada yang menjadi dasar universal yang membentuk suatu sistem universal hingga saat ini. Itulah dunia, itulah kehidupan.