Oppose vs Support

Selamat datang kembali. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir di sela-sela rangkaian kesibukan kita yang tak akan pernah lega. Dunia, apalagi Indonesia memang berdemokrasi dan menjunjung tinggi kebebasan, tetapi tak pernah ada kebebasan untuk mewujudkan sesuatu. Banyak mimpi yang terus menerus sirna di negeri ini, satu per satu menghantam tembok pertentangan.

Memang pendidikan kita mengarahkan kita untuk menjadi para penentang. Walau sedari kecil diberi tahu untuk menurut dan tidak menentang perkataan orang tua atau guru kita, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Dari bangku sekolah hingga universitas pun kita diajarkan untuk berdebat dan menentang. Pelajaran berpikir kritis selalu menuntut kita untuk berkata why something is wrong. Tetapi tidak pernah menjadikan kita untuk berkata why something is right.

Mencari-cari kesalahan seseorang memang jauh lebih mudah daripada menemukan kebenaran seseorang. Jauh lebih mudah untuk pesimis daripada optimis. Jauh lebih mudah untuk duduk dan menyerah daripada maju dan berjuang.

Negeri ini, dan dunia sudah lelah dengan segala pertentangan-pertentangan yang tidak perlu. Mari kita mendukung ide dan pemikiran dan mewujudkannya, daripada menentang, mencerca, lalu membuatnya sirna. Indonesia, dan dunia butuh mimpi kita untuk didukung, bukan ditentang. 🙂

Hutang yang Tak Terbayarkan

Bangsa ini memiliki masa lalu yang suram. Berabad-abad lamanya kita dikuasai oleh kekuatan asing, mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris, Belanda, hingga Jepang. Mungkin kita bisa belajar banyak dari mereka, namun yang pasti rakyat kita dulunya sengsara.

Tanah yang sekarang kita tempati adalah milik mereka, kakek dan kakek buyut kita. Begitu pula dengan pepohonan, mereka pula yang semai, mereka pula yang tanam. Juga rel kereta dan jalan-jalan yang setiap hari kita lewati, yang yang mungkin kita tak pernah membayangkan, siapa dahulu yang membangun. Siapa dahulu yang membersihkan hutan, yang mengangkuti batu, dan membanting jiwa raga membangun jalan-jalan ini. Banyak infrastruktur yang kita gunakan sekarang, peninggalan mereka.

Merekalah para pekerja dan kuli tanpa bayar, merekalah romusha Jepang, merekalah budak-budak kerja paksa Belanda. Merekalah ratusan ribu orang kurus kering dengan pakaian karung dan makanan sekali sehari. Ratusan orang mati kelaparan, ratusan orang mati tertimpa batu dan terkubur tiap hari. Merekalah yang dipaksa meninggalkan kampung halaman, meninggalkan sanak keluarga untuk membangun jalan di sana dan di sini.

Mereka tidak pernah memilih untuk hidup di zaman serba susah dan serba lapar seperti itu. Kita pun tak pernah memilih untuk hidup di zaman ini, zaman serba ada dan serba kenyang. Mereka setiap harinya hanya bisa bermimpi, suatu saat kelak, anak cucuku akan memenangkan peperangan ini, mengusir penjajah-penjajah ini, dan tak perlu menderita seperti yang kita alami. Suatu saat kelak, mereka akan menggunakan jalan-jalan, rel, dan gedung-gedung yang kita bangun, dan mengingat kita, yang telah membangun dengan susah payah.

Mungkin kita tak pernah sadar. Para pendahulu kita itu bukan para materialistik, mereka itu kuli-kuli yang tak dibayar, mereka diambil paksa dari kampung mereka, dan diangkut untuk menjadi pekerja kolonial bersama ratusan ribu pribumi lainnya. Pelajaran sejarah yang kita pelajari di sekolah pun sudah mengingatkan kita akan hal ini. Tapi tak pernah meningkatkan semangat juang kita. Malah hanya membuat kita lebih inferior, pesimis, dan oh tidak, mencerca pendahulu kita.

Pendahulu kita tak hanya menurut dan bersedia menderita begitu saja. Mereka telah melawan, mereka telah berperang, walau itu akhirnya juga merenggut nyawa mereka sendiri. Beberapa dari mereka cukup beruntung untuk selamat, kakek-kakek yang sering kalian lihat memakai baret kuning di pinggir jalan, menatap jembatan tempat mereka dulu berperang.

Mereka sekalipun tak sempat untuk menyenangkan diri, tak ada ego pada diri mereka, yang penting hanyalah bagaimana anak-cucuku bebas dari kesusahan ini. Mereka berkeyakinan, jika anaknya sama menderitanya dengan mereka, mereka adalah orang tua yang tidak baik, orang tua yang gagal.

Mungkin kita tak pernah sadar, kita berhutang banyak kepada mereka. Baik kepada yang saat ini masih hidup, walau sudah tua dan apa adanya. Atau mereka yang telah sejak dulu tiada, yang tak sempat melihat bagaimana kehidupan anak-cucu mereka kelak. Atau mereka pemuda yang gugur, yang bahkan tak berkesempatan untuk berkeluarga, yang tak punya keturunan untuk mengenang mereka. Mereka tak pernah meminta pamrih.

Kita berhutang banyak kepada mereka, dan jumlahnya besar sekali, dan belum terbayarkan, atau tak kan pernah bisa terbayarkan. Kita hanya bisa menikmati, dan lupa diri, di atas penderitaan kakek-nenek kita.

Sistem Pendidikan Berasaskan Pertanian

Kita tak perlu menyuruh sebuah biji untuk tumbuh menjadi pohon. Kita hanya perlu menyiapkan lingkungan dan kondisi yang memungkinkan dia untuk tumbuh.

Hal ini berlaku sama dengan pendidikan. Kita tak perlu mendidik seorang anak untuk menjadi sesuatu yang kita inginkan. Karena tak ada dua anak yang identik.

Jangan didik seorang anak dengan sistem industri, yang semua harus tepat dan pasti. Namun didik seorang anak dengan sistem pertanian. Beri lingkungan dan kondisi yang memungkinkan dia untuk belajar. Dengan begini, dia akan belajar dengan kesadarannya sendiri, bukan karena sistem memaksanya agar belajar. Dia akan belajar hal yang dia sukai, dia akan menemukan talenta yang terpendam pada dirinya.

Dengan sistem industri seperti sekarang ini, tidak semua orang berkesempatan untuk mengolah talentanya. Orang-orang terpaksa untuk bekerja sesuatu yang mungkin dia tidak suka, karena dididik dengan sistem kerja pabrik. Semua serba sama, eksak, dan tak ada kebebasan, dan sering berlatarkan pemaksaan.

Dengan sistem pertanian, kita memberikan kesempatan pada setiap anak untuk menemukan dan mengasah talentanya. Kita merangsangnya untuk tumbuh. Seperti halnya kita menabur benih, mengkondisikan lingkungannya, dan melihatnya tumbuh menjadi pohon. Kita tidak bisa memaksa benih padi tumbuh menjadi pohon rambutan. Kita tidak bisa benih mangga tumbuh menjadi pohon kelapa.

Investasi Masa Depan?

Orang bilang pendidikan adalah investasi masa depan. Kata investasi sendiri bagiku mempunyai makna mengorbankan apa yang kita punya sekarang untuk sesuatu yang lebih besar dan berarti di masa mendatang. Yap, banyak yang bisa kita investasikan. Uang. Waktu. Tenaga. Apapun.

Ketika kita mengeluarkan sesuatu yang tidak semata-mata untuk kesenangan sesaat, aku sebut itu investasi, dengan catatan itu akan berimbas kepada kita di masa depan juga. Kuliah? Investasi. Baca buku? Investasi. Menabung? Hmm, asal keluarnya lebih besar, investasi juga.

Di saat-saat menjelang kuliah ini, aku lebih mementingkan masa depanku. Bersusah-susah sekarang nggak masalah, asalkan masa depan lebih cerah. Minim duit dan hutang sana sini nggak masalah, asal memang bakal berguna buat masa depan.

Pengalaman, skillset, pengetahuan, dan relasi. Itu empat hal pokok yang aku cari di masa mudaku ini. Aku bersedia menginvestasikan apapun untuk memperoleh empat hal itu. 🙂

Mengapa Tidak Remake Kartun Klasik?

Adakah di antara kalian yang tidak tahu Tom and Jerry? Itu adalah salah satu serial kartun yang diciptakan dan tayang puluhan tahun lalu. Namun sampai sekarang masih terkenang dan dinikmati oleh generasi-generasi baru. Jika sudah lama menjadi peminat Tom and Jerry, pasti kita merasa bosan karena episode yang ditayangkan itu-itu saja, tak ada penambahan cerita baru. Nasib yang sama juga menimpa Donald Duck, Woody Woodpecker, hingga Mickey Mouse.

Inilah yang membuatku bertanya, jika kartun-kartun klasik lebih banyak di nikmati, mengapa tidak remake mereka atau menambah episode baru? Kita semua tahu kan kartun-kartun klasik zaman dahulu itu proses pembuatannya manual dengan pen and paper, sedangkan abad 21 ini segala jenis software studio animasi sudah sangat canggih.

Dari pada menonton kartun-kartun keluaran baru yang cenderung kurang bermutu, gaje dan membosankan, lebih baik kan menonton kartun-kartun klasik, dengan cerita baru, warna baru, dan rasa baru.

Aku juga kurang tahu pertanyaan ini harus ditujukan untuk siapa, kepada animator-animator baru, kepada pemegang hak cipta kartun klasik (Disney/WB), atau masyarakat umum?