Kendaraan dan BBM

Belakangan ini sedang seru terdengar isu-isu kenaikan BBM. Isu-isu demo besar-besaran pun juga ramai merayap. Apa sebenarnya motivasi pemerintah untuk menaikkan harga BBM? Bukankah itu akan membuat rakyat menjadi lebih kesusahan? Apa solusi untuk permasalahan yang berputar-putar tanpa akhir ini?

Well, jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Harga bahan bakar minyak di Indonesia adalah tergolong sangat murah. Kata guruku yang dari Turki, di sana harga bensin aja lebih dari dua puluh ribu rupiah per liter. Hampir lima kali lipat harga di Indonesia. Mengapa di sana mahal, dan di sini murah? Kenapa bisa begini?

Di Indonesia, jumlah kendaraan bermotor sangatlah banyak, terutama sepeda motor dan mobil pribadi. Di Indonesia, setiap orang tidak dibatasi untuk memiliki mobil sebanyak-banyaknya. Setiap orang dari kalangan apapun bisa dengan mudah beli motor secara kredit dengan uang muka sangat kecil. Tak bisa dielak, jumlah kendaraan bermotor pun membludak dari tahun ke tahun.

Kendaraan bermotor butuh bahan bakar. Pemerintah dipaksa menyediakan BBM dengan skala super besar. Di negara lain, hanya orang kalangan atas lah yang mempunyai mobil dan motor. Di Indonesia, golongan paling bawah pun punya. Tapi mereka tak bisa membiayai bahan bakar untuk kendaraannya. Oleh karena itu, mereka pun memaksa untuk BBM tetap murah. Kenapa? Karena standar hidup mereka memang memaksa untuk yang murah-murah dan harga-harga kebutuhan pokok di Indonesia cenderung dipengaruhi oleh harga BBM. Aneh kan? Di negara lain, orang kaya bisa punya motor dan mobil walaupun BBM mahal. Karena mereka bisa membiayai bahan bakarnya. Di negara lain, orang kalangan bawah tak usah ikut-ikutan beli kendaraan, kan udah ada kendaraan umum. Mereka juga berpikir, jika punya kendaraan sendiri itu akan lebih ribet dan menambah kemacetan lalu lintas.

Pola berpikir masyarakat Indonesia memang tertinggal di belakang negara-negara lain. Orang Indonesia memandang kendaraan pribadi itu suatu keharusan dan label yang harus dimiliki. Tanpa berpikir jangka panjang dan secara luas, tentang apa yang akan terjadi. Tanpa memandang kemampuan diri, apakah mampu bayar bensin atau tidak.

What Keeps You Going?

What keeps you going? What keeps you wasting your sweat every minute? Is that your loved one? Is that you’re going to make people impressed with your struggle? Every minute, you just doing something useless with all your effort. Do you know why it is meaningless?

Rewards

Because you want reward for your work. Does the reward fulfills your need? Not all you get is what you really need. As an example, you have worked for months to have the money to buy cool and expensive clothes. You did this to make people understands and realize that you are a hard worker. Or you did this to get respect or praise from others. It’s really about social status. What’s really matter about social status?
It’s true that we are happier when our social status is high. But social status is not the one that we must struggle for. Social status is not a permanent mark in our lives. Happiness doesn’t count only on social status. Happiness can be from friends, and good health. So, it’s better do something for friends and for good health than for a meaningless social status. Social status will gone if you lost your wealth or if you accidentally become very poor, but friends and health don’t.

Greed

Because you are greedy. Greed means wanting more and more, without knowing what is enough. To boost success, greed is often considered as a primary way to get it. But we must aware that greed is a terrible mental illness. How come? As I said before, a greedy man doesn’t know where is his limit for enough. He doesn’t know how to enjoy the matter of enough. A greedy man tends to use any possible way to get what he wants. Even by bad ways, stealing, scamming or anything else. We all know that everything that we gain with bad ways can corrupt us.

Love it

Because we love it. Surely, what can stops a man from doing what he like? Nothing. Doing what we like is like living in paradise. We always feel happy and interested in it. We don’t have any temptation to not doing it. Therefore, if we love something we always going trough on it, in any ways.

Goal

Because you have a goal. If you have a goal, you have the mind to achieve it. And you constantly work on it, no matter what happens. Having a goal forces you to work on only what is related to your goal, and what can bring you closer to your goal. When you have reach your goal, you become happy. And then you will set a new goal and work on it. It’s going into greedy area then. Actually, having goal is an endless cycle if you don’t have the feel of contentment.

That’s why

That’s why you keeps going on what are you doing. Maybe not all of them are true for you. Without giving up and lose everything that you have worked on. It is wonderful to keep going on something we like, but it is much wiser to think about it deeply. Is our blood and sweat worth the result?

Harga Ketidakrapian

Sebenarnya aku tak rela mataku menyaksikan hal-hal yang tak bermanfaat dipandang. Apa gunanya, aku memandangi ceceran barang-barang yang berserakan tak tertata. Hanya membuat otakku terganjal dan marah. Jika barang-barang itu milikku, sudah aku lenyapkan mereka agar pandanganku bersih.
Apa yang aku dapatkan? Ketika aku menyaksikan sampah-sampah minggu lalu yang menggunung dan dikerumuni lalat. Mataku saja sudah tak kuat untuk merasa, apa lagi hidung dan kulitku. Hanya ingin muntah. Selain sesuatu yang berantakan, aku sangat benci dengan hal-hal yang kotor.

Ketika sudah tidak ada lagi yang pantas dipandang, gerakkan kakimu dan melangkahlah, berlarilah untuk mencari suasana manusiawi. Karena manusia sepertimu pasti membutuhkan kebersihan dan kerapian untuk hidup.

Dilema Telur dan Ayam

Siapa yang sih ga tahu pertanyaan ini? Duluan mana, telur atau ayam? Bukan kata telur atau ayam yang muncul lebih dahulu, tapi telur dan ayam dalam kehidupan nyata. Hampir semua orang bingung dengan pernyataan yang ga jelas ini. Jika kamu menjawab telur, maka si penanya akan membantah : kan telur berasal dari ayam. Tapi jika kamu menjawab telur, maka si penanya membantah lagi : kan ayam berasal dari telur.

Untuk menjawab soal ini, diperlukan sebuah analisis ilmu biologi cupu. Sebenarnya, subyek pada pertanyaan ini bisa diganti menjadi mamalia. Duluan mana, kucing apa telur kucing? Yap, kucing tidak punya telur. Tapi yang akan aku bahas saat ini yaitu prototipe telur : sel telur. Telur pada ayam itu merupakan sebuah sel telur yang berukuran super jumbo.

Pada mamalia, telur akan langsung “dierami” di uterus. Embryo berkembang disana hingga sempurna berbentuk mamalia dan baru dikeluarkan. Tapi pada ayam, telur langsung dikeluarkan dan embryo berkembang diluar. Nah, menurutku sebuah telur itu bukan sebuah satuan kehidupan yang sempurna dan belum kuanggap sebagai individu, namun sebagai sebuah proses (fase), sedangkan ayam sendiri sudah merupakan individu fase terakhir (yang sempurna).

Analisis Proses

Jika menilik melalui proses, pertanyaan ini bisa dikembangkan lagi dengan subyek adalah hewan yang bermetamorfosis. Duluan mana, telur, ulat, kepompong atau kupu-kupu? Jika mengacu pada prosesnya, tentu jawabannya adalah telur. Sama halnya dengan pertanyaan telur dan ayam tadi, jika acuan jawaban adalah prosesnya maka jawabannya adalah telur dahulu. Sudah jelas bahwa proses menjadi sebuah individu sempurna pada hewan tersebut adalah telur dahulu.

Analisis Kesatuan Individu

Jika menilik aspek lain, yaitu kesatuan individu yang sempurna, maka jawabannya pastilah ayam. Karena proses pertama kali pasti berasal dari suatu individu (makhluk bersel satu) yang kemudian berevolusi menjadi ayam, telur makhluk bersel satu yang berevolusi menjadi telur ayam. Itu dengan dasar pada teori evolusi, tapi jika dengan dasar ilmu agama (Islam) mungkin jawabannya akan sama. Pada masa penciptaan Tuhan menciptakan ayam secara berpasangan, bukan langsung menciptakan telur. Tapi aku masih belum sepenuhnya tahu tentang hal itu.

Kesimpulan

Inilah salah satu pertanyaan singkat yang menimbulkan banyak perdebatan dan analisis yang panjang. Analisisnya bisa beragam dan analisisku ini tentu bukan analisis yang paling benar, tapi setidaknya analisis ini sudah membuka cara berpikir baru yang berlandaskan dengan logika (reasoning) dan pengetahuan, walaupun sedikit ngawur. Jika kamu punya analisis lain, feel free to share! 😀

The Day When We Need The Sun

This time I don’t see the sun. The wind is blowing tremendously fast, ripping my class room’s curtain next to where I sit now. It’s a cold breeze. It’s making my legs tremble badly. Oh, I hear the sky is making it sound, an echoing noise that flow trough my ears. This time I am with nobody.

Dark is here. Dark is coming when lights are gone to nowhere. Yes, lights is fast and no one can carry it. A massless particles that always move and will never find a way to stay. And what about darkness? A scientist once said, if there is no light, means its dark. So is my soul, when there’s no light, darkness will crept into. Making me haunting needlessly.


It’s raining now. I wonder how come, tons of water can fly far above our head every single second, and at the proper time it just bursts down dampen the soil below us. That if we still have soil under our feet. It’s likely that our feet is no longer stand on the ground, but in a marble or stone, or even many floors away above the real soil. By the way, it has no relations with lights.

It’s freezing, although no snow nor ice fall down into my head. Coldness is also the negation of something. It’s the negation of heat. Heat is the basic of all native energies. It’s like a two-sided blade, it can make you alive and it can kill you. So use it wisely.

It’s absolutely dark. I can’t see anything. My eyes need lights to see. Lights will guide my life until the sun is gone.

I just playing with words, trying to let ideas in my head come out.