Mencoba Dunia Desain

Beberapa hari terakhir ini aku sangat excited tentang desain, terutama desain web. Dulu aku memang pernah berkecimpung di dunia desain web. Walaupun sudah lama tak menyentuh urusan itu, ternyata kerinduan akan mengutak-atik web masih melekat dalam-dalam di salah satu daftar mimpiku.

Desain = bakat?

Sejujurnya, aku bukanlah orang desain, melainkan lebih ke eksak dan algoritmis. Jika mengutak-atik masalah kode, aku bisa menjalaninya dengan mudah. Tetapi jika sudah disuruh mengasah kreativitas seni, aku lebih baik angkat tangan. Doktrin bahwa desain tergantung pada bakat ini telah lama aku anut, hingga akhirnya aku sendiri tidak berkembang karena merasa tidak berbakat. Walaupun diam-diam aku sering membaca majalah dan blog desain juga sih.

Tetapi beberapa hari yang lalu aku tercerahkan setelah membaca beberapa artikel tentang desain. Aku baru sadar, ternyata inti dari desain adalah menyelesaikan masalah. Berbeda dengan seni, seni justru membuat masalah. Interpretasi orang-orang terhadap seni boleh berbeda, tetapi desain haruslah melingkupi semua kalangan.

Sebenarnya desain ada banyak macamnya. Desain yang kita ketahui selama ini cenderung desain yang menyelesaikan masalah secara visual. Beberapa jenis desain justru menyelesaikan masalah secara struktural, aestetis, hingga fungsional. Jadi karena desain adalah penyelesaian masalah, tentu kemampuan ini tidak bisa langsung didapat dari bakat. Kita harus sering belajar dan berlatih untuk memiliki kemampuan ini.

Form follows function

Salah satu kata mutiara paling terkenal dari dunia adalah “form follows function”, atau “bentuk mengikuti fungsi”. Kata mutiara ini berarti aspek fungsi harus lebih diutamakan daripada aspek bentuk atau visualnya. Jadi  jika sebuah desain memiliki visual yang keren tetapi tidak menyelesaikan masalah, maka desain itu tidak berarti apa-apa.

Komponen-komponen desain

Desain sendiri memiliki banyak anak cabang yang mempelajari hal-hal yang lebih detail.
1. Layout, mempelajari tata letak elemen
2. Tipografi, mempelajari tentang kumpulan huruf-huruf
3. User experience, mempelajari tentang interaksi antara produk dan pengguna
4. Estetika, mempelajari tentang aspek-aspek keindahan dari sebuah desain

Dan banyak lagi lainnya seperti usability, interaction, color scheme dan lain-lain. Mungkin banyak yang mengira kalau desain itu lingkupnya sempit, tetapi itu salah! Desain lingkupnya sangat luas dan semakin berkembang. Apalagi dengan munculnya medium-medium baru, desain pun harus ber-evolusi.

Kamu tertarik untuk belajar desain juga? Ikuti terus petualanganku dalam mengarungi rimba per-desain-an ya! 🙂